SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Selasa, 06 Januari 2009, 16:32
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/25
      

Write for Us!

Interview
Menilik Konsumsi Storage Indonesia

Teknologi Informasi "Hijau" saat ini telah menjadi salah satu aset penting dan diklaim dapat menciptakan ekonomi yang rendah karbon. Diperkirakan, sepuluh tahun dari sekarang, teknologi hijau akan membantu efek mitigasi dan berhubungan dengan perubahan iklim.

Sementara itu, berdasarkan studi dari American Council untuk Energy-Efficient Economy (ACEEE), setiap kilowatt-jam listrik ternyata digunakan oleh TI. Bagaimana sebenarnya penggunaan teknologi hijau, termasuk metode penyimpanan yang ramah lingkungan? Ikuti wawancara SDA Asia Magazine dengan Astri Dharmawan, Director Storage Works Division Technology Solution Group Hewlett-Packard Indonesia:

SDA Asia Magazine (SDA): Bagaimana penggunaan storage hijau saat ini?
Astri Dharmawan (AD): Dari riset yang dilakukan HP, dengan penggunaan storage hijau, kita bisa menyimpan 45% dari total biaya power dan cooling. Karena jika dilihat dari datacenter cost, komponen terbesar dari total datacenter sebenarnya ada di komponen power dan cooling. Bukan hanya dari sisi power maupun konsumsi listrik, pendinginan pun lebih banyak. Utilitasnya pun lebih besar.

SDA: Untuk di Indonesia, bagaimana perkembangan storage yang ada?
AD: HP Indonesia sendiri fokus pada semua lini produk, mulai dari low end hingga enterprise. Untuk tren storage di Indonesia, dengan lebih dari 220 juta penduduk dan tiga operator besar yang ada, Indonesia sendiri tidak kalah jauh dari negara lain. Memang di industri telekomunikasi atau manufaktur misalnya, terdapat keharusan untuk menyimpan data atau recording. Di samping itu, pertumbuhan data billing customer juga harus dilaporkan, sehingga konsumsi storage juga besar. Dengan demikian, konsumsi storage di Indonesia tidak kalah dengan negara lain.

SDA: Bagaimana ketahanan storage HP terhadap bencana alam?
AD: Storage HP bisa diletakkan di tempat spesifik. Dengan tape drive, maka hal ini lebih berisiko rendah terhadap bencana. Selain itu, dengan teknologi yang ada, maka untuk saat ini, baik CD dan disk, maka yang paling reliable adalah tape.

SDA: Bisakah tape drive HP ini dikontrol dalam jarak jauh (remote) terkait back up data?
AD:
Remote mungkin tidak. Namun dengan adanya MSL (sistem library), maka terdapat sistem robotik sehingga tidak perlu untuk back up data manual. Jadi, bisa otomatis ter-back up.

SDA: Apakah tape drive HP terhubung dengan jaringan SMS?
AD: Secara teknologi dimungkinkan sekali. Di sistem kita juga ada teknologi yang terhubung dengan handphone engineer sehingga mereka juga tahu jika terjadi kerusakan di sistem.

SDA: Secara umum, seberapa penting back up data?
AD: Back up data berhubungan dengan business impact. Bisa dibayangkan bila bank atau perusahaan telekomunikasi yang diharuskan untuk menyimpan data karena berhubungan dengan pendapatan mereka ternyata kehilangan transaksi, maka imbasnya bisa milyaran sebagai risiko bisnisnya.

SDA: Apa saran Anda terkait back up data?
AD: Selalu terapkan multi tier storage. Artinya, jangan hanya tergantung pada online storage, tapi jadikan online dan offline storage itu saling melengkapi, sehingga bisa terjadi zero downtime untuk customer, high availability, sehingga kelangsungan bisnis bisa terjadi. Karena sebenarnya tujuan akhir dari storage work adalah membantu customer untuk menumbuhkan bisnis, mengurangi risiko customer akibat kehilangan data, dan membantu dalam menurunkan biaya.

Widia Yurnalis

 
Other Article
 
 
News
 
Feature