Para CFO di Asia merasakan tekanan untuk memberikan analisis dan prediksi yang lebih baik meski mereka tidak bisa menghilangkan beban dari pekerjaan transaksional. Teknologi kemudian menjadi alat potensial yang membantu dalam proses bisnis.
Kendati demikian, para CFO di Asia masih harus menempuh jalan panjang dengan menjalankan 64% dari rencana mereka sembari memperkirakan pengeluaran. SDA Asia Magazine mengadakan perbincangan dengan Rebecca Norton, CFO & COO Business Objects untuk mengetahui bagaimana berinvestasi dalam business intelligence (BI), sehingga bisa menghilangkan kendala CFO. Berikut kutipan wawancaranya:
SDA Asia Magazine: Dapatkah anda menjelaskan Keadaan BI di Asia sekarang ini?
Rebecca Norton (RN): Dalam mengembangkan ekonomi di Asia, informasi dan pengetahuan telah menjadi kunci yang memacu pertumbuhan. Kita sekarang hidup dalam masa pengetahuan di mana keuntungan dan kesuksesan didasari oleh kepemilikan informasi dan kemampuan untuk menggunakannya sebagai alat berimprovisasi dan berinovasi.
Karena pengetahuan dan penyebarannya telah menjadi diferensiasi kunci dalam bisnis, perusahaan-perusahaan besar Asia kembali berpikir bahwa BI dapat digunakan sebagai investasi teknologi yang esensial. Mereka menggunakan BI untuk memahami, memroses, dan mengomunikasikan informasi, mengubahnya menjadi aset untuk memiliki wawasan yang mendalam dan berperan dalam pengambilan keputusan.
Meski penyebaran BI di Asia masih pada tingkatan dasar, mereka diharapkan menjadi lebih kompleks dan cerdas dalam 3-5 tahun mendatang seiring pemahaman akan BI yang terus meningkat.
SDA: Organisasi-organisasi sudah menyadari betapa pentingnya untuk men-deploy business intelligence, memaanfaatkannya untuk memberikan perusahaan wawasan yang lebih baik. Kendati demikian, 64% dari para CFO di Asia masih terus menjalankan rencana mereka dan mengatur anggaran belanja pada lembar kerja. Menurut Anda apakah ini menghambat perusahaan-perusahaan di Asia dalam mengadopsi BI?
RN: Saya percaya ini diakibatkan kurangnya kemampuan dan miskonsepsi akan masalah biaya sehingga menghambat adopsi BI di Asia.
Sebagai wilayah yang terdiri dari banyak negara, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki porsi yang besar dalam pasar. Sementara itu, banyak UKM menghadapi semacam teka-teki mengenai kebutuhan menyeimbangkan rencana pertumbuhan yang agresif dan investasi TI dengan keterbatasan anggaran dari TI yang lebih kecil, ruang yang terbatas, dan kurangnya staf yang memiliki kualifikasi.
SDA: Apa yang dilakukan Business Objects untuk mengubah persepsi tentang BI di Asia?
RN: Misi kami adalah mengubah cara dunia berpikir dan bekerja dengan menghubungkan orang-orang, informasi, dan bisnis. Saya percaya menjadi pemimpin di bidang ini dan mendemonstrasikan kepada pelanggan keuntungan akan BI akan membantu perubahan dan mengembangkan persepsi dari teknologi di wilayah ini.
SDA: Apakah Anda melihat adanya perubahan dalam melakukan pendekatan untuk mengimplementasikan business intelligence di pasar yang berbeda dalam wilayah Asia Pasifik?
RN: Penyebaran BI cenderung tergantung pada bisnis yang spesifik dan kebutuhan akan teknologi, baik lewat sektor industri, maupun oleh faktor geografinya.
Kami melihat banyak perusahaan yang lebih kecil dalam negara-negara berkembang lebih suka menambahkan hal-hal fungsional pada lingkungan yang sudah ada, ketimbang membangun BI yang baik. Sementara di beberapa negara yang lebih maju, kami melihat kecenderungan perusahaan mengelompokkan pendekatan data-centric menjadi paradigma process-embedded yang membantu perkembangan informasi, kolaborasi menyeluruh dan diluar batas perusahaan, memacu pengguna bisnis dalam konteks aktivitas bisnis sehari-hari.
Tanpa menghiraukan ukuran perusahaannya, semua pelanggan mencari relevansi bisnis dari solusi BI yang memastikan nilai bisnis terus berjalan untuk jangka waktu panjang.
SDA: Bagaimana Anda menjelaskan generasi selanjutnya dari Business Intelligence? RN: Generasi berikutnya dari software BI akan menggabungkan integrasi data dan kualitas data dalam satu produk.
SDA: Apa tantangan – baik teknologi maupun aspek bisnis – yang dihadapi organisasi ketika menghadapi integrasi BI?
RN: Kami terus bekerja agar peralatan Business Objects menjadi lebih mudah digunakan bagi pengguna yang tidak ahli BI. Tantangan bagi kami untuk terus mengembangkan aplikasi-aplikasi yang mampu menganalisis tak sekedar di permukaan sehingga pengguna akhir tidak tahu bahwa kenyataannya terdapat algoritma yang sedang bekerja di balik layar.
Beberapa perusahaan membatasi penggunaan peralatan BI untuk pengguna energi. Mereka melihat tantangan bahwa dengan memperluas kemampuan BI, kompleksitas akan berkurang, tapi di sisi lain juga tidak banyak pengguna yang paham bagaimana caranya menjalankan rencana tersebut.
Tantangan bisnis lain berhubungan dengan kemungkinan yang ada pada perusahaan kelas menengah. Mereka biasanya mengambil keputusan berdasarkan kombinasi akan pengalaman dan kenekatan ketimbang fakta murni dan angka-angka. Selain itu, mereka juga mempercayai dan mengandalkan BI mendekati revolusi budaya bagi beberapa dari mereka.
Ini juga berarti bahwa transisi dari pendekatan sebelumnya dalam menggunakan teknologi BI bagi perusahaan besar membutuhkan waktu dan pelatihan karyawan. Melatih para karyawan dalam menggunakan peralatan BI menjadi krusial bagi implementasi BI enterprise-wide yang sukses.
SDA: Bagaimana Anda menyarankan perusahaan untuk menerobos keseluruhan rintangan dalam implementasi BI?
RN: Sumber data multiple (ERP, CRM, SCM) bisa membuat transformasi data perusahaan menuju informasi bergerak, menyeluruh, dan akurat menjadi tantangan TI terbesar yang dihadapi perusahaan.
Oleh karena itu, untuk mendukung pelatihan yang memadai bagi para pengguna BI, Kami mengupayakan agar peralatan makin intuitif dan mampu melakukan konfigurasi awal, sehingga kerusakan dari pengguna yang tidak memiliki kemampuan bisa dibatasi.
Pelanggan bisa mengharapkan perjalanan bisnis BI yang user-friendly dalam beberapa bulan ke depan.
SDA: Mengacu kepada laporan terakhir dari Gartner, Business Objects memimpin pasar platform BI di seluruh dunia pada 2007. Apa rencana Anda untuk menjaga posisi kuat ini, bisakah anda membagi beberapa strategi?
RN: Business Objects tidak hanya diakui oleh Gartner dalam memimpin perolehan penjualan platform BI di seluruh dunia pada 2007, tapi juga dianggap IDC sebagai vendor nomor satu untuk peralatan BI dengan memegang 14,2 persen dari pasar dan bersama dengan SAP, memimpin pasar dengan menguasai 19,2 persen dari pasar.
Kami akan terus mematahkan rintangan yang ditimbulkan BI tradisional sehingga setiap orang yang terhubung dalam organisasi dapat mengakses secara cepat dan terpercaya pada informasi bisnis yang mereka butuhkan bagi pekerjaan. Kami juga mengembangkan pemikiran-pemikiran baru dan cara untuk menjalankan bisnis dengan baik. Bersama dengan SAP, kami menolong organisasi menghadapi apa yang menjadi rintangan utama dari kebanyakan bisnis hari ini: disconnect antara dunia yang mengambil keputusan dengan dunia yang mengeksekusi mereka.
SAP dan Business Objects bersama-sama membantu organisasi memperbaiki jarak antara strategi dan eksekusi, memungkinkan pelanggan untuk mengoptimalkan performa bisnis mereka.
SDA: Dengan TI hijau yang sedang menjadi topik hangat akhir-akhir ini, beberapa dari kompetitor Anda bekerja menghadapi eksploitasi wilayah ini dengan SAS dan akhirnya menemukan sebuah perangkat yang membuat perusahaan bisa menganalisis dampak dari operasi mereka terhadapa lingkungan. Apakah Business Objects berencana untuk "go green" dengan menawarkan hal serupa?
RN: Business Objects sudah “Hijau” dengan memperhatikan pelatihan perusahaan personal kami dan melalui solusi yang disediakan. Dalam tubuh Business Objects sendiri, grass-roots employee Green Teams kami memberikan inisiatif lingkungan. Sebagai contoh, di Vancouver, Kanada, disepakati untuk tidak lagi membeli air mineral botolan. Untuk menggantinya, mereka menginstal sumber air.
Dari perspektif konsumen, solusi BI kami membantu mereka mengurangi carbon footprint dengan mengurangi penggunaan kertas untuk menghasilkan laporan.
SDA: Bisakah Anda membagi pengalaman selama menjadi CFO di Asia, bagaimana menghadapi budaya dan praktik bisnis yang berbeda?
RN: Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa Asia adalah wilayah yang berbeda baik dari segi geografis maupun budaya dengan tantangannya sendiri. Sangat penting untuk mengetahui dan mengapresiasi perbedaan dan memahami bagaimana cara mengatasinya dalam keseharian. Saya pernah mengikuti seminar yang mengajarkan untuk fokus dalam menolong orang untuk memahami perbedaan budaya.
Kesempatan belajar ini meningkatkan penghargaan dan penerimaan saya akan perbedaan, yang sangat esensial dalam membuat lingkungan di seluruh dunia lebih efektif. Juga sangat penting untuk mengingat dengan bekerja bersama orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, mungkin akan didapatkan hasil yang lebih baik karena hadirnya perspektif yang berbeda pula.
Redaksi SDA Asia Magazine





