SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Rabu, 07 Januari 2009, 08:14
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/25
      

Write for Us!

Interview
Peran TI di Sektor Manufaktur

Ketatnya persaingan dalam dunia bisnis membuat para pemainnya mencari cara yang efektif untuk terus bertahan dan berkembang, termasuk dalam industri manufaktur yang seringkali mengalami resiko downtime pada proses produksi, sehingga mengonsumsi banyak energi. Hal ini tak hanya menyebabkan beban pada biaya operasional, namun juga kesulitan dalam mengatur kelangsungan dalam produksi. Untuk itu, sistem Teknologi Informasi (TI) yang handal dan berbeda sangat diperlukan.

IBM sebagai penyedia perangkat keras dan perangkat lunak komputer menyadari tantangan tersebut bagi sektor manufaktur, termasuk di Indonesia. Bagaimana peran TI dalam sektor manufaktur di Indonesia, berikut petikan perbincangan SDA Asia Magazine dengan Anthony  Ng, ECM Technical Sales Manager, Asia Pasific IBM corporation.

SDA Asia Magazine (SDA) :Dalam pandangan Anda, bagaimana peran TI dalam sektor manufaktur di Indonesia? 
Anthony Ng (AN): Dalam inovasi bisnis modern di mana pun, peran TI mutlak diperlukan. Tidak hanya lewat produk yang dihasilkan, namun juga bagaimana mereka melakukan keseluruhan proses. Sebagai contoh, beberapa perusahaan memproduksi mobil dengan menggunakan teknologi dari Jepang. Teknologi tersebut membuat kualitas produk semakin baik, waktu produksi yang lebih cepat, dan mengurangi ketergantungan terhadap orang-orang tertentu.
Peran TI memastikan bahwa sistem berjalan lebih baik dan perusahaan bisa lebih kompetitif, sehingga membantu untuk meraih efektivitas dan perencanaan di masa depan. Hal ini terjadi karena sistem TI memiliki waktu lisensi, sehingga perusahaan bisa lebih mudah menyesuaikannya dengan rencana investasi, biaya, juga risiko.

SDA :Apa kendala signifikan dalam implementasi TI di sektor manufaktur?
AN : Tipikal sektor manufaktur terletak pada mesin perencanaan yang masih berbentuk fisik, juga biaya implementasi yang cukup besar. Belum lagi masalah menemukan orang yang mengetahui dan bisa menggunakan teknologi terbaru itu sendiri.

SDA : Lantas, solusi apa yang dibutuhkan?
AN: Perusahaan tentunya harus bisa melihat orang yang cukup mahfum akan TI itu sendiri. Khusus untuk sektor manufaktur, kemampuan untuk mengatur properti intelektual, seperti dokumen, bukti transaksi, dll sangat penting karena rata-rata masih berbentuk kertas. Suatu hari nanti, jika sesuatu terjadi seperti kecelakaan atau bencana, informasi ini bisa hilang begitu saja. Jadi TI merupakan sistem yang mempermudah dalam melakukan aktivitas setelah bencana terjadi di mana pun dan kapan pun.

SDA : Apakah itu semua bisa dilakukan lewat Enterprise Content Management (ECM)?
AN : ECM adalah teknologi yang digunakan untuk menerima, mengatur, menyimpan, memelihara, dan menyampaikan konten dan dokumen yang berkaitan dengan proses organisasional. Apa yang ECM tawarkan kepada konsumen adalah mengatur semua konten perusahaan. Hal ini bernilai bukan saja karena bisa menghemat biaya, tapi juga perencanaan dan akses informasi yang sangat mudah. Kalau kita membicarakan produktivitas, banyak perusahaan yang mengeluarkan uang untuk mendapatkan lingkungan yang baik, seperti menyewa pegawai dengan keahlian tinggi sehingga harapan produktivitas akan meningkat.
Hal itu terjadi juga dengan sistem ini. Banyak waktu, tenaga, dan biaya yang bisa dikurangi untuk hal-hal yang biasanya dilakukan dengan cara manual. Seperti mencari dokumen, mengeceknya, dan menginformasikan. Saya melihat jika bisnis dan sumber daya manusia tumbuh bersamaan, semuanya juga ikut meningkat.

SDA : Bagaimana Anda melihat lingkungan TI di Indonesia?
AN :
Ini hal yang menarik karena negara ini banyak mengonsumsi sumberdaya alamnya dalam industri, namun belum bisa menyeimbangkan eksplorasi tersebut dengan penggunaan TI. Indonesia belum menyadari bahwa investasi pada TI juga penting untuk kemajuan banyak hal. Jika kita melihat India, atau negara lainnya yang mengalami perkembangan pesat, persamaan kemajuan mereka karena didukung tingginya kesadaran TI.
Akan tetapi, hal ini juga harus didukung oleh pemerintah berkaitan dengan perencanaan infrastruktur TI. Saya melihat kesadaran di Indonesia bahwa TI seperti hanya untuk bisnis. Padahal kesadaran TI di masyarakat juga mendukung kesadaran di industri, termasuk manufaktur.

SDA : Apakah ECM sendiri sesuai dengan standar TI hijau?
AN : ECM mendukung dalam hal penggunaan kertas yang lebih sedikit, bahkan tanpa kertas. Bayangkan jika masih dan terus menggunakan kertas. Apa yang akan terjadi 50 tahun mendatang? Berapa banyak pohon yang terpakai?

SDA : Lalu bagaimana Indonesia dibandingkan negara lainnya dalam sektor ini?
AN : Ini tergantung pada perusahaannya. Saya tidak bisa langsung memberikan perbandingannya. Karena dalam sektor manufaktur di setiap negara, ada perusahaan yang ingin melewati standar setinggi mungkin, ada yang ingin hanya melewati standar tersebut.

SDA : Apa pendapat Anda tentang efek krisis ekonomi saat ini dan apakah TI bisa memberikan kontribusi dalam menghadapinya?
AN :
Masalah fundamentalnya adalah melonjaknya permintaan karena keterpaksaan untuk menyimpan kebutuhan. Orang tiba-tiba membeli barang dalam jumlah banyak selagi mereka bisa. Namun setelahnya akan berhenti dan berhemat. Jika mengaitkannya dengan sektor manufaktur di Indonesia, ketika orang di luar Indonesia berhenti mengonsumsi, lalu apa yang bisa diekspor? Karena manufaktur Indonesia sebagian besar tidak terpusat pada pasar domestik, melainkan ekspor. TI, dalam hal ini ECM, tidak memberikan solusi langsung, namun bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih efektif. 

Hertiana

 
Other Article
 
 
News
 
Feature